4 Karakteristik Guru yang Buruk Saat Pembelajaran

4 Karakteristik Guru yang Buruk Saat Pembelajaran Jarak Jauh

  • Teachmint
    Teachmint

Di masa pembelajaran jarak jauh ini guru kerap kali dituntuk untuk menjadi seorang guru ideal. Banyak tulisan atau pelatihan yang menyarankan guru melakukan hal ini dan itu. Tetapi, salah satu cara ampuh untuk menjadi guru yang hebat, adalah dengan mengetahui counter examplenya, yakni bagaimana guru yang tidak hebat atau guru yang buruk tersebut.

Berikut ini adalah empat karakteristik guru yang buruk saat pembelajaran jarak jauh. Apakah kamu salah satunya? Simak penjelasannya.

Jarang bertanya atau belajar dari kolega

Guru yang buruk tidak memiliki keinginan atau kesadaran untuk belajar dari orang lain. Secara umum, kebijaksanaan di dapat dari dua cara. Pertama, dipelajari melalui cara yang keras, yakni pengalaman hidup. Kedua, dipelajari dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, yakni melalui buku, video wawancara, rekaman audio (podcast), dan sebagainya.

Sebelum masa pandemi, secara praktis, guru dapat berkunjung ke kelas-kelas guru lain atau visitasi. Melalui visitasi, setidaknya guru dapat mengobservasi bagaimana cara atau metode koleganya saat mengajar, seperti praktik manajemen kelas yang dilakukan, serta apa bentuk-bentuk penugasan yang diberikan.

Di masa pandemi ini, guru dapat meminta izin kepada kolega untuk dapat hadir di pertemuan pembelajaran online atau sesi sinkronus. Dalam melakukannya, guru tidak perlu memulainya dengan langkah yang besar, tapi start small. Misalnya, visitasi secara online dilakukan hanya satu kali perminggu, dengan durasi satu sesi pembelajaran, yakni 30-45 menit. Selain itu, guru juga dapat melakukan wawancara dengan guru lain dengan terlebih dahulu menyiapkan topik pembicaraaan atau apa-apa saja yang ingin ditanyakan.

Sering bekerja lembur

Selanjutnya, guru yang buruk adalah guru yang tidak memiliki keseimbangan hidup, yakni sering bekerja lembur. Hal ini buruk karena membawa dampak negatif tidak hanya kepada guru tersebut, tetapi juga kepada orang lain, termasuk murid dan kolega.

Guru yang sering bekerja lembur bisa membahayakan kesehatannya. Jika guru tersebut sakit, hal itu dapat menghambat produktivitasnya dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pengajar. Artinya, bisa saja karena sakit ia meminta guru lain untuk menggantikannya mengajar. Hal ini tentu akan membawa kerepotan bagi orang lain, meski koleganya menerima saja dan tentu tetap akan memberikan bantuan.

Selain itu, guru yang sering lembur juga dapat dikatakan memiliki sedikit pengalaman di luar sekolah. Ini menjadikan kehidupan di sekolah adalah kehidupan satu-satunya yang guru tersebut miliki. Apa akibatnya? Tidak ada cerita-cerita inspiratif di luar sekolah yang dapat dibagikan kepada murid. Selain itu, guru juga akan menuntut sangat banyak kepada murid, karena sekolah adalah satu-satunya yang ada di pikiran guru tersebut.

Berfokus hanya pada konten atau materi

Kemudian, guru yang buruk juga hanya berfokus pada materi pelajaran, dan tidak pada pengembangan relasi dengan murid maupun orang tua. Ini bukan berarti bahwa materi pelajaran itu tidak penting. Tetapi, dewasa ini guru perlu bersikap kritis terhadap dirinya sendiri karena banyak materi pelajaran yang sebenarnya ada di internet. Bahkan di konteks masa pembelajaran daring ini, banyak bermunculan bahan belajar untuk di rumah yang gratis, menarik, dan interaktif.

Bagaimana guru bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini? Salah satu perbedaan besar antara guru dan internet adalah bahwa guru bisa memiliki relasi dengan murid. Di dalam bukunya yang berjudul โ€œEffective Classroom Managementโ€ yang diterbitkan oleh Teachers College Press dari Columbia University, Garrett (2014) menyebutkan salah satu komponen dari proses manajemen kelas adalah memupuk hubungan dengan murid.

Relasi positif yang dimiliki antara murid dan guru dapat memicu perkembangan akademik murid. Hal ini guru dapat mengetahui kesulitan spesifik dari murid dan tujuan pertumbuhan seperti apa yang dibutuhkan oleh murid tersebut. Seorang murid dapat bercerita secara leluasa mengenai kesulitannya kepada guru yang ia senangi. Peran guru inilah yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Tidak peduli dengan kebutuhan murid

Murid adalah makhluk yang holistis. Itu sebabnya dalam penilaian, guru menyertakan penilaian kognitif, afektif, serta psikomotor. Sekolah bukan semata-mata hadir untuk mengembangkan otak anak, tetapi juga sikap, karakter, keterampilan, bahkan spiritualitas anak. Selain itu, pengetahuan juga bersifat holistis, yakni saat murid membuat sebuah video misalkan, tidak hanya melibatkan mata pelajaran TIK, tetapi juga Seni Visual, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, bahkan Pendidikan Agama. Oleh karena itu, sekolah yang hanya memfokuskan pada satu aspek, misalkan perkembangan kognitif murid, akan mengabaikan fakta bahwa murid diciptakan secara holistis.

Dengan demikian, penting bagi guru untuk medesain kegiatan pembelajaran serta bentuk asesmen yang dapat mengakomodir perkembangan murid dalam berbagai aspek. Sebagai contoh, alih-alih memberikan bentuk asesmen sumatif tes tertulis, guru dapat memberikan penugasan dalam bentuk projek transdisiplin atau interdisiplin yang dapat dikerjakan dalam kelompok. Dalam projek transdisiplin atau interdisiplin, murid dapat belajar berbagai mata pelajaran dalam satu projek. Selain itu, di dalam kelompok, mereka juga dapat mengembangkan keterampilan untuk bekerja sama dan berkomunikasi dengan orang lain.

Sebagai penutup, harapannya empat karakteristik dari guru tesebut dapat dihandiri oleh seorang guru khususnya pada masa pembelajaran jarak jauh ini. Guru yang bijak adalah guru yang bersifat preventif dan memiliki hati untuk mau belajar. Selamat berjuang!