Manajemen Kelas di Pembelajaran Online – 4 Cara Praktis

Manajemen Kelas di Pembelajaran Online – 4 Cara Praktis

  • Teachmint
    Teachmint

Manajemen kelas adalah kunci dari kelas yang efektif dan efisien. Tanpa manajemen kelas, pembelajaran akan menjadi kacau. Tidak heran banyak guru di tahun pertama sangat kesulitan dengan manajemen kelas. Bagaimana sebenarnya proses manajemen kelas tersebut, khususnya di masa pembelajaran online ini?

Dikutip dari buku “Effective Classroom Management” yang diterbitkan oleh Teachers College Press dari Columbia University, proses dari manajemen kelas terdiri dari empat komponen, yakni: (1) menetapkan aturan dan rutinitas; (2) memupuk hubungan; (3) instruksi menarik; (4) menangani kedisiplinan (Garrett, 2014).

Bagaimana empat komponen ini dapat diterapkan dalam pembelajaran online? Simak penjelasan berikut ini.

Menetapkan aturan dan rutinitas

Dalam pembelajaran jarak jauh, aturan dan rutinitas sama pentingnya dalam pembelajaran tatap muka. Bisa jadi, penyebab kacaunya manajemen kelas dari seorang guru pada masa pembelajaran daring ini disebabkan karena mereka belum menetapkan aturan dan rutinitas yang jelas.

Apa perbedaan aturan dan rutinitas? Aturan merupakan ekspektasi perilaku murid secara umum atau keseluruhan. Di sisi lain, rutinitas merupakan ekspektasi perilaku murid pada tugas-tugas yang lebih spesifik.

Salah satu contoh aturan yang sering digunakan oleh guru adalah 3R’s, yakni respect, readiness, dan responsibility. Misalnya, dalam hal readiness, murid perlu mengikuti pertemuan online atau sinkronus dengan hadir tepat waktu atau 5 menit sebelumnya. Selanjutnya, salah satu contoh dari rutinitas adalah rutinitas pagi. Jika pertemuan online diadakan pukul 9 pagi, apa yang perlu dilakukan murid dari pukul 7 hingga 9 pagi sebelum pertemuan? Misalnya, mereka bisa membaca kitab suci dan mengirimkan respon bacaan di grup kelas.

Memupuk hubungan

Perbedaan guru dan Google adalah bahwa guru bisa memiliki sebuah relasi dengan murid. Dengan adanya relasi, guru akan terus ingat bahwa murid adalah seorang manusia, bukan robot, yang bisa berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak guru. Melalui relasi ini juga guru bisa menjadi orang tua murid selagi di sekolah.

Salah satu cara untuk membangun hubungan dengan murid adalah dengan mengadakan waktu khusus untuk berbagi cerita, pengalaman, kabar, maupun doa. Guru bisa membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil, misalkan tiap kelompok beranggotakan maksimal 4 orang. Lalu sesi berbagi tersebut misal diadakan di Jumat selama 30 menit. Guru bisa menyiapkan sebuah wadah online berupa aplikasi pembelajaran dimana para murid bisa menuliskan kabar dan cerita mereka.

Cara lain, misalkan, guru secara aktif menghubungi murid-murid yang sering tidak hadir selama pembelajaran online. Penting bagi guru untuk menyimpan catatan pribadi mengenai siapa saja yang jarang hadir di sesi pertemuan sinkronus. Jika murid sudah beberapa kali tidak hadir, misalkan tiga kali, guru dapat langsung menghubungi orang tua via SMS atau telepon, bahkan berkunjung ke rumah.

Instruksi menarik

Pemberian instruksi yang menarik akan sangat mempengaruhi keseruan pembelajaran. Instruksi harus singkat, padat, dan jelas. Di sisi lain, instruksi juga harus menarik. Dengan melakukan ini, murid tidak hanya dibantu memahami apa tujuan atau ekspektasi dari guru, tetapi juga bisa menjalani setiap aktifitas yang ada dengan sukacita.

Sebagai contoh, guru bisa meminta murid untuk membagi kelompok. Hal itu bisa mengakibatkan kekacauan di dalam kelas sebab beberapa murid tahu mau bekerja sama dengan siapa, dan sebagian lagi tidak tahu. Selanjutnya, guru bisa memberikan instruksi yang jelas, seperti berapa orang dalam satu kelompok, berapa lama waktu yang diberikan untuk membagi kelompok, dan sebagainya.

Selanjutnya, bagaimana kita bisa meningkatkan pembagian kelompok menjadi suatu hal yang menarik? Misalkan, dengan menggunakan aplikasi wheel spinner. Melalui aplikasi tersebut, murid dapat merasakan sensasi pembagian kelompok yang menegangkan oleh karena pembagian tidak ditentukan oleh murid maupun guru, tetapi dengan bantuan aplikasi; tidak ada yang tahu secara pasti.

Menangani kedisiplinan

Pada akhirnya, sesempurna apapun proses manajemen kelas guru, pasti akan ada masalah kedisiplinan yang timbul dari murid. Hal ini karena murid bukanlah robot yang tidak memiliki kehendak bebas. Murid adalah manusia yang bisa berbuat sesuatu atas kehendaknya pribadi, baik itu hal yang buruk maupun baik.

Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menangani setiap masalah yang ada agar murid mengerti bahwa guru tidak membiarkannya dan murid juga mengerti bahwa hal tersebut adalah masalah, bukan suatu hal yang normal atau baik.

Selain itu, guru juga perlu membedakan antara masalah kecil dan besar di area kedisiplinan ini. Dalam hal kecil, misalkan, dapat berupa tidak meresponi pertanyaan atau instruksi guru dalam pertemuan online, datang terlambat di sesi pembelajaran, atau lupa memakai baju seragam. Dalam hal besar, misalkan, murid membully temannya, murid tidak hadir atau tidak mengumpulkan tugas-tugas selama beberapa minggu, atau murid menunjukkan perilaku yang tidak pantas selama pembelajaran. Tentunya, konsekuensi yang timbul harus disesuaikan dengan bobot atau beratnya suatu permasalahan.

Dengan melakukan empat komponen dari proses manajemen kelas ini, diharapkan guru dapat memiliki kelas virtual yang lebih efektif dan efisien. Sebelum kita memarahi murid, mari kita cek terlebih dahulu, apakah kita sudah melakukan bagian kita? Selamat mencoba!