Tips Membangun Kelas Hybrid

Menurut berbagai studi kualitatif, pembelajaran hybrid memiliki potensi untuk memberikan pendidikan yang lebih efektif dan efisien. Manfaat kelas hybrid juga cenderung lebih besar lagi jika program belajarnya dirancang dan dieksekusi dengan optimal. Namun, berhubung praktek seperti ini masih cenderung baru, masih banyak guru dan institusi pendidikan yang belum paham betul bagaimana cara melakukannya dengan optimal. Untuk itu, cobalah ikuti berbagai tips berikut ini.

Perencanaan Kelas

Banyak sekolah konvensional yang terpaksa beralih ke kelas hybrid akibat pandemi. Masalahnya, sebagian besar dari mereka tidak melakukan perencanaan yang baik, sehingga hasilnya pun banyak yang kurang efektif. Sementara di sisi lain, banyak pula institusi pendidikan yang sukses dengan program kelas hybrid mereka karena proses perancangan kurikulumnya dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Susun Kurikulum

Sebuah program belajar yang efektif haruslah memiliki tujuan belajar yang pasti. Dari tujuan tersebut, tuliskan apa saja hal-hal yang perlu diajarkan dalam satu program belajar. Pastikan semuanya tersusun secara runut dan terarah, lengkap dengan target durasi programnya.

Tentukan Model Pembelajaran

Tahapan selanjutnya adalah menentukan model hybrid yang seperti apa yang akan Anda terapkan. Mulailah dengan menentukan proporsi kelas online dan offline, serta dimana saja kegiatan pembelajaran utamanya. Tidak ada batasan khusus mengenai sebanyak apa kegiatan belajar online atau offline masing-masing, karena semuanya bergantung pada kebutuhan. Anda bisa mempelajari lebih banyak mengenai model pembelajaran hybrid pada artikel berikut ini.

Atur Durasi Kelas

Perlu diperhatikan juga bahwa ada batas maksimal dalam menentukan durasi kelas agar kegiatan belajar tetap optimal. Dalam hal kelas tatap muka, kegiatan belajar idealnya hanya sekitar 60-90 menit per sesi. Sementara untuk kelas online, durasi per sesi sebaiknya hanya sebatas 45-60 menit. Dalam satu hari, murid bisa belajar beberapa sesi. Namun, pastikan ada jeda waktu yang cukup di antaranya, mungkin sekitar 10-15 menit.

Tentukan Batasan dan Aturan

Pembelajaran hybrid mengaburkan batas ruang belajar. Secara tidak langsung, ini juga bisa mengaburkan batas aturan dalam menjalankan seluruh programnya. Beberapa contoh kasus yang umum terjadi adalah murid seringkali bolos, orang tua yang terlalu banyak membantu murid mengerjakan tugas, atau komunikasi yang kacau di berbagai platform.

Pihak sekolah harus bisa membuat batasan dan aturan untuk hal-hal tersebut. Tanpa batasan yang jelas, gurulah yang akan kewalahan sendiri. Murid juga bisa dirugikan sendiri jika guru kesulitan mengakomodasi semua kebutuhan murid karena hal ini.

Informasikan ke Seluruh Peserta Kelas

Kebanyakan sekolah konvensional hanya memberikan info jadwal kelas kepada para muridnya tanpa mereka tahu apa saja yang akan mereka pelajari. Padahal, murid butuh memahami rencana pembelajaran secara keseluruhan, mulai dari tujuan belajar, proses, serta jadwalnya. Hal ini diperlukan untuk membuat mereka memahami mengapa mereka harus belajar dan bahkan memotivasi mereka untuk ikut berusaha mencapai tujuan belajar mereka.

Pilih Platform Kelas Online yang Tepat

Keberhasilan kelas online akan sangat bergantung pada platform yang digunakan. Buktinya, banyak kelas hybrid yang gagal karena mereka hanya menggunakan aplikasi yang bukan spesifik ditujukan mengatur kelas. Idealnya, aplikasi kelas online harus memenuhi berbagai kriteria di bawah ini:

Keamanan

Aplikasi yang digunakan sekolah harus menjamin keamanan digital untuk menghindari kebocoran data dan resiko keselamatan. Oleh sebab itu, hindari menggunakan platform yang tidak terdaftar dan tidak memiliki enkripsi keamanan yang baik.

Fitur

Banyak produk teknologi digital yang bisa mendukung keberlangsungan kelas online, misalnya platform kuis online, whiteboard interaktif, live conference, file sharing, dan masih banyak lagi. Namun, akan jauh lebih baik lagi bila pihak sekolah menggunakan platform yang sudah mencakup semua fitur tersebut, misalnya aplikasi Teachmint.

Penggunaan aplikasi yang memang dikhususkan untuk kelas live online akan lebih efisien. Baik guru maupun murid tidak perlu menginstall banyak platform karena semua fitur pentingnya sudah tersedia dalam satu aplikasi.

Harga

Tarif aplikasi yang mahal tentu akan menyebabkan biaya pendidikan membengkak. Oleh karena itu, pihak sekolah harus memastikan aplikasi yang dipilihnya masih cukup terjangkau.

Cara Operasional

Guru dan murid harus mampu mengoperasikan platform kelas tersebut secara maksimal, termasuk lihai menggunakan setiap fiturnya. Untuk menjamin hal tersebut, sebaiknya aplikasi yang dipilih memiliki user interface yang mudah dipahami.

Tips Menjalankan Kelas Hybrid

Tantangan utama dalam kelas hybrid tentu adalah saat mengeksekusi rencananya itu sendiri. Di kelas, baik online maupun offline, guru harus memastikan bahwa proses transfer ilmu berlangsung dengan lancar dan menyenangkan. Guru juga bertanggung jawab mengatasi berbagai masalah yang terkadang muncul tak terduga.

Buat Rutinitas

Kelas hybrid bukan berarti bisa berpindah-pindah dari online ke offline dan sebaliknya sewaktu-waktu. Harus ada jadwal yang tetap dan rutin sehingga guru dan murid bisa menyesuaikan diri. Perubahan jadwal yang tidak pasti akan menyulitkan semua pihak dalam mengatur jadwal keseharian pribadi masing-masing.

Pelatihan Teknologi

Agar kelas online berjalan lancar, pastikan guru, murid, dan orang tua murid paham caranya menggunakan teknologi dan internet. Hal itu termasuk mengatasi koneksi internet yang tidak stabil, mengoperasikan platform online yang diperlukan, serta bagaimana membuat dan meng-convert file untuk pengumpulan tugas.

Format Kelas Tatap Muka yang Modern

Meski sudah dikombinasikan dengan kelas online, kelas tatap muka juga tidak bisa lagi dijalankan dengan cara lama. Hindari posisi bangku murid berbaris menghadap depan dimana murid harus duduk diam sementara guru menerangkan. Kelas tatap muka harus lebih dinamis dan bisa mengakomodasi berbagai jenis kegiatan belajar.

Eksplorasi Variasi Kegiatan

Pengalaman belajar yang beragam akan membuat murid makin tertarik untuk terus fokus. Baik pada kelas fisik maupun kelas virtual, proses belajar akan lebih efektif lagi jika variasi kegiatannya melibatkan sebanyak mungkin panca indera. Adanya ragam kegiatan ini juga akan menghindarkan murid dari rasa bosan akibat pengalaman yang monoton.

Fleksibilitas Kurikulum

Salah satu keuntungan kelas hybrid yang sangat besar adalah kurikulumnya memungkinkan untuk mengakomodasi murid dalam berbagai level kecerdasan. Untuk memaksimalkan potensi ini, pihak sekolah bisa menawarkan melakukan banyak hal.

Murid yang cenderung butuh lebih banyak waktu untuk memahami materi, bisa ditawarkan kelas tambahan atau video penjelasan materi yang lebih bertahap. Sebaliknya, murid yang lebih cepat belajar bisa ditawarkan kegiatan eksplorasi atau tambahan referensi yang lebih mendalam. Tugas sekolah pun sebaiknya dibuat fleksibel agar bisa menyesuaikan kemampuan dan kreativitas murid.

Perhatikan Perbedaan Sikap Murid

Guru perlu memastikan murid-muridnya bersemangat baik selama kelas online maupun offline. Hal tersebut dapat terlihat dari ekspresi wajahnya selama menjalani kelas, serta seberapa antusias mereka untuk berpartisipasi. Guru juga bisa menanyakan langsung kepada para murid tentang bagaimana perasaan mereka terhadap pelajaran hari itu pada akhir sesi kelas.

Persiapan Pribadi

Masing-masing guru dan murid perlu mempersiapkan diri sendiri untuk menjalani kelas hybrid. Dalam hal ini, murid tentu saja perlu bimbingan orang tua dalam mengerjakannya. Adapun persiapan yang penting diperhatikan antara lain persiapan mental, menyusun jadwal pribadi, mempersiapkan peralatan, dan lain sebagainya.

Minimalkan Distraksi

Baik guru maupun murid dan orang tuanya harus mengatur diri agar bisa fokus selama kelas berjalan. Selain belajar berdisiplin diri, masing-masing juga harus meminimalkan hal-hal yang berpotensi mendistraksinya, misalnya kebisingan dari sekitar, orang yang lalu lalang di sekitarnya, dan lain sebagainya.

Berbagai Tantangan untuk Diantisipasi

Mengantisipasi dan mengatasi masalah juga merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kelas hybrid. Tentu saja, tantangan ini bisa sangat beragam dan mungkin tidak disangka-sangka. Namun, berikut adalah beberapa contoh kasus yang cukup umum terjadi akibat minimnya antisipasi.

Resiko Cyberbullying

Cyberbullying bisa dihindari dengan mengajarkan konsep empati dan sopan santun di awal program belajar. Komunikasi antar murid juga sebaiknya dilakukan melalui platform yang diawasi oleh guru atau orang tua murid. Pihak sekolah juga harus berani bertindak tegas jika ada kasus cyberbullying terjadi di sekolahnya.

Ketidakseimbangan Kelas

Mengatur proporsi kelas online dan tatap muka dalam pembelajaran hybrid memang tidak mudah karena memang tidak ada aturan baku dalam hal ini. Guru harus melakukan analisa secara mandiri, mengevaluasi, dan terus menyempurnakannya setiap waktu.

Murid Kurang Jujur

Adanya tugas dan penilaian di luar kelas tatap muka memungkinkan murid untuk berlaku tidak jujur. Memang, tantangan yang satu ini akan sulit untuk dihindari 100% karena bahkan kelas konvensional pun tidak bisa menjamin kejujuran murid sepenuhnya. Beberapa hal yang bisa diusahakan untuk menjaga kejujuran murid adalah dengan memberikan pendidikan karakter, mengacak pola pertanyaan ujian, serta memastikan kamera menyala selama ujian online.

Guru Kelelahan

Menjalankan kelas online dan offline kadang membuat guru merasa kewalahan. Namun, hal itu bisa disiasati dengan membuat kurikulum yang lebih ringkas, disiplin dengan jadwal kerja, dan memanfaatkan penilaian otomatis pada berbagai platform kuis dan ujian digital.

Evaluasi

Pada akhir sebuah program belajar, guru dan pihak sekolah perlu melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengukur seberapa jauh keberhasilan mereka. Evaluasi juga merupakan cara untuk mencari tahu hal apa saja yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan agar program belajar berikutnya bisa jadi lebih baik lagi.

Kumpulkan Feedback

Umpan balik perlu dikumpulkan dari para murid dan mungkin juga orang tua murid. Kegiatan ini idealnya dilakukan pada akhir program, ketika para murid sudah menyelesaikan semua aktivitas belajarnya dan masih mengingat jelas pengalaman belajar mereka selama ini. Feedback tersebut dapat berupa keluhan, kritik, saran, atau permintaan.

Refleksi Keefektifan Kelas

Selain mengumpulkan feedback secara langsung, guru juga perlu memperhatikan beberapa hal untuk mengukur apakah kelasnya berlangsung efektif atau tidak selama ini. Untuk mengukurnya, guru bisa melihat dari beberapa hal di bawah ini:

  • Tingkat absensi murid dalam masing-masing kelas online dan offline.
  • Tingkat pemahaman para murid terhadap materi yang diajarkan.
  • Tingkat keterlibatan partisipasi murid dalam kelas, baik online maupun offline
  • Seberapa banyak murid yang mengambil kelas atau referensi belajar tambahan

Update Tren dan Teknologi

Praktek kelas hybrid berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi serta gaya hidup sosial manusia. Maka, wajar saja jika institusi pendidikan yang menjalankan praktek kelas hybrid harus terus mengikuti update tren dan teknologi yang ada agar kelas yang mereka tawarkan bisa tetap menjadi opsi belajar yang paling efektif dan menyenangkan.

Kelas tatap muka konvensional sudah mulai banyak yang beralih permanen menjadi kelas hybrid. Namun, perubahan cara belajar tidak berhenti di situ saja. Seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, praktek kelas hybrid pun akan terus mengalami perubahan dari masa ke masa. Pihak institusi pendidikan sudah seharusnya juga terus mengembangkan diri sesuai tuntutan zaman agar bisa terus mendidik generasi penerus menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya.