4 Ciri Guru Hebat di Masa Pembelajaran Online

4 Ciri Guru Hebat di Masa Pembelajaran Online

  • Teachmint
    Teachmint

Bagaimanakah sosok guru hebat di masa pembelajaran jarak jauh ini? Apakah ia yang bisa menggunakan banyak aplikasi pembelajaran? Atau guru yang tahu banyak permainan digital? Jawabannya tidak.

Guru yang hebat, yang terpenting, dipengaruhi dari apa cara pandangnya dan bagaimana ia berinteraksi dengan murid maupun orang tua. Berikut ini adalah empat ciri dari seorang guru yang hebat dalam masa pembelajaran online ini.

Ciri 1: Fleksibel

Di masa yang sulit dan serba tidak pasti seperti sekarang ini, guru yang hebat adalah guru yang fleksibel. Fleksibilitas adalah salah satu aspek yang penting untuk dapat diterapkan di pembelajaran daring. Tanpa fleksibilitas, pembelajaran akan sulit atau tidak dapat dijalankan dengan baik.

Fleksibilitas yang dimaksudkan dalam tulisan ini ada berbagai macam, seperti waktu pengumpulan tugas, bentuk penugasan, maupun perangkat yang digunakan oleh murid untuk mengikuti pembelajaran dari rumah.

Misalkan, dalam hal waktu pengumpulan tugas, ada baiknya tidak ditetapkan satu hari tertentu, tetapi dalam rentang waktu. Hal ini karena jika murid berada di rumah, ada beberapa murid yang akan mengalami kendala, baik itu karena kendala materi maupun perangkat, seperti telepon genggam atau laptop yang masih digunakan orang tua untuk bekerja.

Ciri 2: Memberikan instruksi yang jelas

Instruksi adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pengajaran. Instruksi yang jelas akan menolong murid memahami deskripsi tugas, tujuan, serta bagaiamana menyelesaikannya. Tidak heran jika guru tidak jelas dalam memberikan instruksi, hasil pekerjaan murid pun tidak akan sesuai dengan ekspektasi guru atau rubrik yang telah ditetapkan.

Instruksi dapat meliputi berbagai hal, seperti apa yang harus dikerjakan, berapa lama durasi yang diberikan, menggunakan media atau aplikasi apa, bagaimana contoh atau ekspektasi produk akhirnya, dan di mana murid harus mengumpulkannya jika sudah selesai.

Perhatikan perbedaan dari kedua contoh instruksi berikut; manakah yang lebih jelas?

  • Contoh 1: buatlah pertanyaan mengenai penjumlahan dan pengurangan.
  • Contoh 2: buatlah masing-masing 1 pertanyaan mengenai penjumlahan dan pengurangan dalam waktu 10 menit. Setiap pertanyaan dapat memiliki lebih dari satu operasi hitung, dan angka-angka yang digunakan tidak lebih besar dari 100. Silahkan dituliskan di buku, fotokan, dan unggah di chat pribadi saya.

Instruksi yang jelas terdapat pada contoh yang ke-2. Murid akan cenderung lebih banyak bertanya jika diberikan instruksi yang pertama.

Ciri 3: Tidak merepotkan orang tua

Pembelajaran jarak jauh menambah banyak kerepotan orang tua. Setidaknya ada dua hal yang semua orang tua pasti alami. Pertama, mereka harus menyediakan perangkat dan internet bagi anak-anak mereka agar dapat mengikuti pembelajaran dari rumah. Ada beberapa yang membeli baru, dan ada juga yang meminjam punya orang tua maupun kakak atau adik. Kedua, ada kemungkinan anak-anak akan menjadi tidak fokus saat tidak didampingi saat belajar dari rumah.

Selain dua contoh di atas, tentu masih banyak contoh lainnya yang juga dapat memusingkan orang tua. Selain mengurus pendidikan anak, orang tua juga harus bekerja, dan merawat tumbuh kembang anak-anak mereka. Oleh karena itu, hendaknya guru tidak menambah lagi kesulitan orang tua kegiatan atau aktifitas pembelajaran yang disusun.

Lebih lanjut, maksud dari tidak merepotkan orang tua dalam hal ini adalah sebisa mungkin mendesain aktifitas atau kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dari rumah, dan tidak harus kesana kemari. Misalkan, apakah wajar untuk meminta murid berenang di masa pembelajaran daring ini? Tentu tidak. Contoh lain, apakah orang tua akan kesulitan jika diminta untuk menyiapkan semua bahan untuk praktik eksperimen listrik sederhana? Tentu iya. Baiknya semua bahan-bahan disiapkan dari sekolah; orang tua bisa menyiapkannya, paling hanya satu bahan dari 10 bahan, misalkan.

Ciri 4: Reflektif

Sikap reflektif (atau praktik refleksi) merupakan sikap yang cukup jarang dibahas dalam konteks pendidikan di Indonesia, khususnya sekolah negeri. Tetapi, ini cukup familiar di sebagian sekolah swasta yang memiliki kiblat kepada pendidikan barat. Hal ini mungkin diakibatkan oleh pendidikan timur banyak dipengaruhi oleh filsafat timur, yang menaruh penekanan pada etika, sedangkan pendidikan barat banyak dipengaruhi oleh filsafat barat, yang menekankan pada aspek epistemologi serta metafisika.

Lebih lanjut, sikap reflektif adalah sikap berenung terhadap apa yang telah terjadi; memikirkan apa yang bisa diperbaiki di masa depan. Praktik refleksi termasuk dalam metakognisi, yakni memahami apa yang dipahami. Ini merupakan cara berpikir tingkat tinggi, dan jika diterapkan di sekolah, akan membawa perubahan cara mengajar dan pola pikir sebagai guru ke arah yang semakin baik tiap harinya.

Misalkan, kapan seorang guru memikirkan tentang apa yang diajarkan kepada anak-anak? Apakah ia sudah menggunakan metode terbaik? Apakah yang diajarkannya adalah benar adanya? Apakah ada aspek-aspek pengajaran yang bisa diperbaiki? Apakah murid-murid terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Pertanyaan-pertayaan ini dapat guru tanyakan di akhir hari setelah semua kegiatan belajar mengajar selesai agar dapat meningkatkan pengajarannya esok hari ataupun minggu depan. Ada baiknya refleksi mengajar di hari tersebut juga dilakukan dari hari tersebut, karena manusia cenderung pelupa.

Jadi, sebagai kesimpulan, jika kita mau menjadi guru yang hebat di masa pembelajaran online ini, jangan lupa untuk mengadaptasi empat ciri ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Selamat mencoba!