Mengembangkan Proses Kognitif Murid Saat Online Learning

Mengembangkan Proses Kognitif Murid Saat Online Learning

  • Teachmint
    Teachmint

Salah satu isu yang sering dibahas dalam pembelajaran jarak jauh adalah adanya learning loss, atau kemunduran akademik, dimana keterampilan berpikir murid pada waktu tertentu tidak sesuai dengan standar di tingkat atau waktu tersebut.

Hal yang perlu diingat oleh guru adalah bahwa semua perlu waktu dan proses. Oleh karena itu, guru tidak boleh ingin terlalu cepat menyelesaikan masalah learning loss dengan langsung memulai pembelajaran dari tahap empat atau analisis. Jika demikian, murid akan sulit mengikuti pembelajaran dan bagian terburuknya, mereka bisa menganggap diri mereka bodoh atau mungkin membenci sekolah.

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membantu guru untuk menjadi penolong bagi murid dalam mengembangkan proses kognitif mereka.

Taksonomi Bloom

Benjamin S. Bloom, seorang psikolog pendidikan Amerika yang terkenal dengan kontribusinya dalam perkembangan kognitif murid, yakni Taksonomi Bloom (Bloomโ€™s Taxonomy), menjelaskan bahwa terdapat 6 tahapan dalam proses kognitif. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengingat, (2) memahami, (3) mengaplikasikan, (4) menganalisis, (5) mengevaluasi, (6) mengkreasikan.

Setiap tahap ini disusun dari yang paling sederhana hingga paling kompleks. Ini berarti proses kognitif yang kedua, yakni memahami, akan lebih mudah dilakukan jika tahap pertama sudah beres. Sebagai contoh, sebelum murid bisa memahami materi rotasi dan revolusi Bumi, mereka harus terlebih dahulu mengingat apa arti rotasi dan revolusi Bumi, dan mengingat juga contoh serta gambarnya.

Perbedaan LOTS dan HOTS

Selanjutnya, dalam taksonomi ini, tiga proses pertama disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat rendah (LOTS, atau Lower Order Thinking Skill), dan tiga proses berikutnya disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS, atau Higher Order Thinking Skill).

Di dalam pembelajaran daring, LOTS sangat baik digunakan dalam sesi asinkronus, atau pembelajaran mandiri di rumah. Hal ini karena LOTS sifatnya adalah materi, informasi, dan latihan. Di lain sisi, HOTS cocok untuk sesi sinkronus, atau pembelajaran tatap muka secara online. HOTS membutuhkan lebih banyak bantuan guru, seperti melalui diskusi dan latihan terbimbing.

Meminta Murid Membuat Pertanyaan

Dari penjelasan di atas, kita juga dapat menarik kesimpulan bahwa salah satu cara logis untuk melihat sejauh mana murid memahami sebuah topik, adalah dengan meminta mereka untuk memformulasikan pertanyaan-pertanyaan (tahap 3, mengaplikasikan) yang terkait dengan topik yang sedang diajarkan.

Misalnya, saat sedang mempelajari penjumlahan dan pengurangan, proses kognitif yang ketiga adalah meminta mereka untuk membuat contoh-contoh soal yang mengakomodir penjumlahan dan pengurangan. Tentunya dalam konteks pembelajaran daring, hal ini juga dapat dimodikasi praktiknya menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran yang ada agar lebih seru.

Selain dengan membuat pertanyaan akan membantu guru melihat pemahaman murid, aktifitas tersebut juga merupakan sebuah contoh aktifitas yang memacu keterlibatan anak dalam pembelajaran. Terdapat perbedaan yang signifikan antara soal-soal yang dibuat oleh guru dan murid. Soal-soal yang dibuat murid bersifat personal, dimana soal-soal yang dibuat guru adalah akademik. Unsur personal dalam pembelajaran dapat menolong murid untuk mengkontekstualisasikan apa yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.

Tiga Tahap Murid Membuat Pertanyaan

Ada tiga tahap yang bisa dilakukan guru dalam aktifitas murid memformulasikan pertanyaan-pertanyaan, yakni sebagai berikut.

  1. Siapkan sebuah aplikasi pembelajaran sebagai wadah untuk menampung setiap pertanyaan murid.
  2. Cek pengaturan dari aplikasi tersebut. Pastikan setiap murid dapat mengaksesnya dan menuliskan pertanyaan melaluinya.
  3. Berikan instruksi yang jelas kepada murid. Misalnya, sebagai berikut:
  • Berapa pertanyaan yang harus dibuat murid. Agar aktifitas dapat dilakukan dengan waktu yang sedang atau cukup lama, ada baiknya jumlah pertanyaan minimal tiga.
  • Pertanyaan tentang apa yang harus dibuat oleh murid. Misalnya, dalam contoh sebelumnya, mengenai penjumlahan dan pengurangan.
  • Untuk siapa pertanyaan berikut. Ada kalanya pertanyaan dibuat untuk diri sendiri, dan bisa juga dimodifikasi untuk diberikan dan dijawab oleh teman-teman mereka. Dalam kondisi yang kedua, pastikan juga jumlah teman yang harus diberikan pertanyaan.
  • Berapa lama waktu yang diberikan bagi mereka untuk membuat pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tentunya kita tidak ingin pembelajaran menjadi terlalu lama atau terlalu sebentar. Oleh karena itu, murid harus tahu mengenai waktu yang mereka miliki.
  • Apa kegiatan mereka setelah selesai membuat pertanyaan. Dari seluruh murid, biasanya ada beberapa murid yang selesai lebih dahulu dari waktu yang telah diberikan. Pastikan guru sudah menyiapkan agenda selanjutnya. Misalnya, mereka dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan temannya di aktifitas setelahnya.

Harapannya, dengan melakukan setiap tahapan berikut, murid dapat dibantu untuk mengembangkan proses kognitifnya. Bahasan tentang proses kognitif sangat luas. Tapi, di artikel kali ini, hendaknya guru dapat mengaplikasikan hal ini, yakni meminta murid untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang terdapat unsur personal, agar keterlibatan mereka dalam pembelajarn daring juga bisa meningkat.