Perencanaan Efisien Untuk Pembelajaran Online Menggunakan Backward

Perencanaan Efisien Untuk Pembelajaran Online Menggunakan Backward Design Model

  • Teachmint
    Teachmint

Dalam pembelajaran online, beberapa kali guru langsung memulai perencanaan dengan langsung memikirkan aplikasi apa saja yang akan digunakan untuk mengajarkan topik-topik tertentu.  Sebenarnya, praktik semacam ini akan membawa inefisiensi dalam penggunaan waktu perencanaan guru. Mengapa demikian? Simak pemaparan di bawah ini.

Forward Planning vs Backward Planning

Forward planning (atau perencanaan dari depan) merupakan perencanaan pembelajaran yang dimulai dari depan, yakni langsung memikirkan materi apa yang akan diajarkan, aplikasi apa yang akan digunakan, atau permainan apa yang akan diberikan kepada murid. Sederhananya, forward planning adalah perencanaan berdasarkan lini masa (timeline) terjadinya proses pembelajaran. Jadi, asesmen atau tujuan akhir belajar juga direncanakan di akhir.

Di lain sisi, backward planning adalah perencanaan yang dimulai dari belakang, yakni tujuan akhir pembelajaran. Berbeda dengan forward planning, pada backward planning pemahaman sepanjang hayat (enduring understanding), pertanyaan esensial (essential questions), dan bentuk asesmen sumatif sudah dipikirkan sejak awal perencanaan pembelajaran.

Lebih lanjut, dalam forward planning, biasanya guru memulai pembelajaran dengan langsung masuk pada materi atau konten. Sedangkan, pada backward planning, akan dimulai dengan penyampaian tujuan pembelajaran. Jika diilustrasikan, forward planning diibaratkan seperti seseorang yang pergi ke pasar dan bingung untuk membeli apa sehingga berakhir membeli banyak barang yang tidak dibutuhkan, sedangkan backward planning seperti seseorang yang tahu hendak membutuhkan apa lalu pergi ke pasar untuk mencarinya.

Adapun dalam tulisan ini, penggunaan kata backward planning dan backward design model ditujukan kepada hal yang sama, yakni perencanaan dengan tujuan pembelajaran sebagai awal mula perencanaan. Kemudian, sumber utama yang digunakan dalam tulisan ini adalah dari buku “Understanding by Design: Guide to Creating High-Quality Units” (2011) karya dari Grant Wiggins dan Jay McTighe; mereka adalah pelopor dari backward design model.

Manfaat Backward Design Model

Di masa pembelajaran online ini, perencanaan seperti apakah yang dibutuhkan guru, forward atau backward? Jawabannya adalah backward planning. Mengapa demikian? Karena dalam masa pembelajaran daring ini waktu formal yang digunakan untuk belajar jauh berkurang dibandingkan dengan sebelum pandemi. Selain karena jam belajarnya juga berkurang, walaupun dalam pertemuan online, akan ada kemungkinan menemui kendala perangkat maupun internet.

Oleh karena itu, dibutuhkan penyesuaian dalam perencanaan pembelajaran yang dilakukan guru, yakni memilih tujuan pembelajaran yang sangat spesifik atau terarah agar pembelajaran tidak bersifat meluas, tetapi dalam, sehingga waktu yang digunakan bisa optimal dan efisien. Inilah manfaat pertama dari backward planning, yakni menolong guru mendesain pembelajaran yang terarah.

Selain itu, Wiggins & McTighe (2011) juga menyebutkan bahwa dengan mengimplementasikan backward design model, guru akan (1) dibantu untuk dapat melihat dengan jelas, baik perencanaan jangka pendek maupun panjang, (2) lebih mudah untuk mendesain asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, serta (3) memberikan pengajaran yang lebih bermakna.

Tiga Tahap Pelaksanaan Backward Design Model

Dikutip dari Wiggins & McTighe (2011), ada tiga tahap pelaksanaan dari Backward Design Model, sebagaimana tercantum dalam gambar berikut ini.

Berikut ini adalah pembahasan lebih lanjut dari setiap tahap di atas.

Tahap 1 – Mengidentifikasi hasil yang diinginkan

Di tahap pertama ini, guru akan menentukan hasil belajar yang diinginkan. Ini merupakan perumusan tertulis tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran bisa diambil dari KI 3 dan KI 4 yang sudah disusun oleh pemerintah. KI 3 adalah tujuan dalam aspek kognitif dan KI 4 dalam aspek psikomotor.

Selanjutnya, tidak hanya dari hal tersebut, tetapi juga Profil Pelajar Pancasila. Pemahaman seperti apa yang akan diingat oleh murid walaupun ia sudah selesai belajar di unit pembelajaran tersebut? Ini sering disebut dengan pemahaman sepanjang ayat. Untuk memahami ini, dibutuhkan juga perumusan pertanyaan esensial, yakni pertanyaan-pertanyaan utama yang bersifat sebagai pemandu semua pertanyaan yang ada di dalam seluruh unit pembelajaran.

Tahap 2 – Menentukan bukti belajar

Selanjutnya, guru juga akan menentukan produk atau keterampilan apa yang akan dihasilkan oleh murid melalui asesmen formatif dan sumatif. Apakah mereka akan menghasilkan video, audio, tulisan, atau hal lain? Guru perlu memiliki bayangan yang konkrit mengenai ekspektasi dari asesmen sumatif yang akan dikerjakan oleh murid.

Penentuan bukti belajar ini ada dalam asesmen formatif dan asesmen sumatif. Untuk formatif, adalah hasil belajar di sepanjang pembelajaran, dan sumatif di akhir pembelajaran, atau bisa disebut dengan produk akhir. Di sisi lain, guru juga perlu menentukan peran formatif terhadap sumatif; apakah bersifat draf atau cerminan.

Selain itu, jika guru memiliki contoh hasil akhir dari asesmen yang diberikan, ini akan sangat membantu murid untuk bisa menghasilkan hal yang serupa atau bahkan melebihinya. Hal ini karena setiap karya original dimulai dari persepsi, atau penggunaan alat indera untuk menginernalisasi tujuan pembelajaran atau hasil yang menjadi ekspektasi dalam pembelajaran.

Tahap 3 – Merencanakan pengalaman belajar dan instruksi

Di tahap ini, guru akan mulai menyusun urutan materi, seperti apa yang akan dibahas per minggu, yang juga merupakan tahap awal dari forward planning. Selain itu, guru juga mulai merencanakan media-media pembelajaran yang akan digunakan, seperti aplikasi pembelajaran dan permainan digital edukatif.

Dalam tahap ini, sangat penting bagi guru untuk menyusun tahapan pembelajaran dengan runut. Oleh karena itu, guru juga bisa menggunakan Gagne’s Nine Events of Instruction dalam menyusun tahapan pembelajaran.

Sebagai penutup, dalam pembelajaran online, penting bagi guru untuk menerapkan backward design model agar pembelajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Apakah kamu berminat mencobanya? Selamat mencoba!

Referensi Tambahan

Wiggins, G., & McTighe, J. (2011). The Understanding by Design: Guide to Creating High-Quality Units. Alexandria: ASCD.