Kelas Online: Panduan Lengkap Mengajar dan Belajar dari Rumah

Kelas Online: Panduan Lengkap Mengajar dan Belajar dari Rumah

  • Teachmint
    Teachmint

Di masa pandemi ini, guru diharuskan untuk mengajar dari rumah. Hal ini tetap dilakukan sejak awal tahun 2020 meskipun guru belum siap untuk mengajar di kelas online. Oleh karena itu, artikel ini menyediakan panduan lengkap bagi guru mengajar dari rumah di kelas online, termasuk dalam hal penggunaan aplikasi kelas online. Sifat artikel ini lebih ke hal-hal praktis yang langsung dapat diterapkan guru di pembelajaran daring. Simak selengkapnya.

Pengertian Kelas Online

Kelas online adalah ruang virtual tempat dilaksanakannya kegiatan belajar mengajar secara daring. Di masa pandemi ini, murid dan guru tidak dapat pergi ke sekolah agar tetap aman sehingga kelas online sangat menolong memfasilitasi kegiatan belajar mengajar bisa tetap berjalan. Tentunya kita semua terbantu kan dengan adanya kelas online?

Murid dan guru sudah menggunakan kelas online sejak awal tahun 2020 lalu dan terus berlanjut hingga sekarang. Kita masih belum mengetahui sampai kapan akan terus menggunakan kelas online untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti saat ini.

Manfaat Mengajar di Kelas Online

Dengan adanya kelas online, guru dan murid tetap aman terhindar dari potensi tertular virus Covid 19 melalui kontak langsung. Selain itu, kelas online juga membuka peluang-peluang baru, seperti pemanfaatan teknologi yang lebih banyak dalam kegiatan belajar mengajar.

Lebih lanjut, kelas online juga menolong murid dapat belajar dari murah, menggunakan perangkat yang ada, serta dapat diakses kapan pun, 24 jam sehari. Terlebih lagi, banyak aplikasi kelas online yang bisa meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar murid. Intinya, kelas online menjadi wadah virtual yang sangat penting bagi guru dan murid di masa pandemi ini.

Selain itu, dari segi biaya, ada beberapa platform atau aplikasi yang menawarkan kelas online gratis. Untuk kelas online gratis, akan menawarkan fitur-fitur yang standar. Selanjutnya, kelas online premium atau berbayar, akan menghadirkan fitur-fitur yang lebih kompleks dan lengkap.

Cara Mengajar di Kelas Online

Selama hampir 2 tahun berjalannya kegiatan belajar mengajar melalui kelas online, guru mungkin bertanya, “Bagaimana caranya mengajar secara daring?” Atau “hal-hal apa saja yang dibutuhkan agar pembelajaran daring dapat terlaksana dengan baik? Untuk menjawab ini, setidaknya ada 4 cara yang guru dapat terapkan, yakni sebagai berikut.

1)   Dengan bantuan Learning Management System (LMS)

Learning Management System atau sistem manajemen pembelajaran dalam Bahasa Indonesia, merupakan sebuah aplikasi yang membantu memfasilitasi wadah virtual dari proses pembelajaran. Fitur-fitur yang terdapat di LMS seperti: (1) memungkinkan adanya komunikasi antar guru dan murid, (2) wadah penyimpanan materi pelajaran, (3) penilaian tugas murid, serta (4) pertemuan secara sinkronus antara guru dan murid.

Dengan adanya LMS, pembelajaran dapat berlangsung dengan rapi dan sistematis. Untuk biaya, ada LMS yang memerlukan biaya yang mahal untuk mendapatkan fitur-fitur yang lengkap. Tetapi, ada juga yang gratis untuk fitur standar. Ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap sekolah. Bagaimana dengan kebutuhan sekolahmu?

2)  Mengajar Secara Sinkronus

Mengajar secara sinkronus sama halnya dengan pertemuan daring yang dilakukan secara langsung. Biasanya fitur sinkronus ini terdapat juga di dalam LMS. Tetapi, ada beberapa aplikasi yang juga menyediakan fitur pertemuan sinkronus tanpa adanya LMS. Jadi, opsi yang tersedia banyak sekali. Beberapa dari mereka khusus dibuat untuk masa pandemi ini.

Dengan adanya aplikasi yang memiliki fitur sinkronus, guru dapat membuat kelas online yang sederhana dan ringan sehingga murid yang berada di daerah yang sulit sinyal dapat mengikutinya dengan lancar. Jika terintegrasi dalam LMS, biasanya aplikasi yang menyediakan fitur ini cukup mahal. Tetapi, untuk aplikasi independen, kebanyakan dari mereka bersifat gratis. Menarik, bukan?

3) Mengajar Secara Asinkronus

Mengajar secara asinkronus berarti guru merekam terlebih dahulu materi pelajaran secara mandiri. Setelah itu video-video pelajaran ini akan diunggah dalam sebuah aplikasi. Selanjutnya, tautan-tautan akan diberikan kepada murid untuk dapat diakses secara mandiri di waktu yang cocok bagi mereka. Misalnya, guru dapat mengunggah video pelajaran di YouTube dengan pengaturan privasi “unlisted” kemudian membagikannya kepada murid.

Mengajar secara asinkronus memiliki manfaat materi pelajaran yang dapat diulang-ulang dan diatur kecepatannya oleh murid. Ini sangat cocok dalam konteks kelas besar, bukan kelas kecil, sebab sudah ada kemandirian dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Selain itu, materi-materi yang sifatnya kompleks pun akan terbantu karena fitur video yang dapat diulang.

Ada aplikasi yang menyediakan fitur ini dengan biaya gratis, ada juga yang berbayar, sesuai dengan kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan; semakin besar kebutuhannya, semakin mahal biayanya. Untuk memulai, mungkin guru dapat menggunakan YouTube karena gratis.

4)   Mengajar dengan Blended Learning

Mengajar secara blended learning secara sederhana berarti menggabungkan cara mengajar secara sinkronus dan asinkronus. Ini berarti ada pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka daring, dan ada juga yang disaksikan secara mandiri oleh murid. Dari semuanya, ini adalah opsi kelas online terbaik, dan membutuhkan aplikasi kelas online khusus. Dengan cara blended learning, pembelajaran sinkronus dapat difokuskan untuk sesi diskusi terkait dengan materi yang murid sudah pelajari secara asinkronus.

Selanjutnya, blended learning juga memberikan kesempatan bagi guru dan murid untuk membangun relasi satu sama lain. Sama seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang,” bukan? Untuk aplikasi yang memungkinkan adanya blended learning, biasanya memakan cukup banyak biaya karena fitur-fitur yang terdapat didalamnya cukup kompleks.

Tips Membuat Kelas Online yang Interaktif

Lebih lanjut, salah satu pertanyaan juga yang mungkin ditanyakan guru, “bagaimana membuat pembelajaran lebih interaktif? Atau “bagaimana agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dua arah, tidak hanya satu arah dari guru?” Jangan khawatir, empat cara berikut ini dapat kamu terapkan agar kelas online bisa berlangsung dengan lebih interaktif. Guru dapat menerapkan hal-hal berikut selama pembelajaran daring.

1)  Menggunakan Aplikasi Pembelajaran

Secara sederhana, aplikasi pembelajaran adalah aplikasi kelas online yang digunakan untuk memfasilitasi jalannya proses kegiatan belajar mengajar secara sinkronus maupun asinkronus. Fitur-fitur dari aplikasi pembelajaran sangat beragam, dan biasanya satu aplikasi dengan yang lainnya memiliki keunggulan-keunggulan tertentu yang berbeda satu sama lain.

Dengan adanya aplikasi pembelajaran, kelas online bisa berlangsung dengan lebih seru dan menyenangkan. Selain itu, untuk aplikasi pembelajaran ini banyak yang gratis, dan ada juga yang berbayar untuk mendapatkan fitur yang lebih lengkap. Seperti biasa, sebelum mencoba yang berbayar, ada baiknya guru mencoba terlebih dahulu fitur-fitur yang gratis. Selain itu, guru juga dapat mengajukan aplikasi yang berbayar agar dapat didanai oleh sekolah, jika diperlukan.

2)  Membuka Sesi Diskusi

Diskusi adalah salah satu kegiatan yang mengasyikkan dilakukan saat pembelajaran online dan dapat dilakukan menggunakan aplikasi kelas online. Diskusi merupakan sebuah kegiatan bertukar pendapat antara guru dan murid. Dengan adanya aktivitas diskusi, murid dapat lebih terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, diskusi bisa diterapkan di awal, tengah, maupun akhir pembelajaran. Menarik, bukan?

Pertanyaan diskusi dapat yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan pelajaran. Sebagai contoh, pertanyaan yang berhubungan dengan pembelajaran, “Kenapa setiap hal yang ada di tata surya bisa ada dengan sangat teratur?” Selanjutnya, contoh pertanyaan yang tidak berhubungan dengan kegiatan pembelajaran, “Apa aktivitas yang kamu lakukan saat akhir pekan lalu?”

Setiap jenis pertanyaan pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda, entah untuk mengetahui pemahaman murid atau sesederhana untuk mengenal para murid dengan lebih dalam lagi. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan ini perlu dipersiapkan sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan, termasuk ke arah mana pembicaraan yang nanti akan terjadi.

3) Menyiapkan Beragam Aktivitas

Untuk memunculkan kegiatan pembelajaran yang interaktif, guru perlu menyiapkan beragam aktivitas. Berapa banyak yang perlu dipersiapkan? Di angka 2 atau 3 minimal, adalah hal yang sangat baik. Misalnya, dalam 1 jam alokasi waktu mengajar, dapat diatur aktivitas pembuka 15 menit, penyampaian materi 15 menit, dan latihan mandiri dengan disertai umpan balik 30 menit. Dengan beragam aktivitas ini, tentunya murid tidak akan bosan, dan akan lebih terlibat dalam kelas onlinemu.

- Berikut adalah beberapa tips bagi guru untuk menghindari kelas online menjadi membosankan bagi siswa.

4)  Menyusun Sistematika Pembelajaran

Pembelajaran interaktif juga memerlukan susunan pembelajaran yang sistematis. Sistematika pembelajaran adalah tahapan pembelajaran yang jelas dari satu tahap ke tahap yang lainnya. Misalkan, di awal pembelajaran, bukan langsung diawali dengan penyampaian materi, tetapi menarik perhatian murid terlebih dahulu.

Dengan menyusun pembelajaran yang sistematis, guru dapat merencanakan di bagian mana saja murid diperlukan untuk memberikan respons, dan di bagian mana yang mereka hanya perlu menyimak mendengarkan. Hasilnya? Tentu pembelajaran akan terjadi secara dua arah dengan intensional. Untuk menyusun sistematika pembelajaran, guru perlu mengetahui model-model desain pembelajaran. Ini akan lebih lanjut dijelaskan di bagian bawah.

Menyusun Rencana Pembelajaran Kelas Online

Lebih jauh, salah satu pertanyaan dari yang juga muncul, “Bagaimana menyusun rencana pembelajaran online,” “Apa-apa saja tahapan dari pembelajaran online? Jawaban dari pertanyaan ini adalah dengan mengetahui desain-desain pembelajaran online. Ada banyak desain pembelajaran online. Di bawah ini ada 5 yang dapat kamu pilih dan mulai praktikkan.

1) Desain Pembelajaran Backward

Pembelajaran backward atau Backward Design Model (BDM) dalam Bahasa Inggris, adalah desain pembelajaran yang dimulai dengan merencanakan tujuan instruksional. Pencetus dari desain ini adalah Wiggins dan McTighe; desain ini dibahas lengkap dalam buku mereka yang berjudul, “Understanding by Design.”

Manfaat menggunakan desain pembelajaran backward adalah tujuan akhir atau jangka panjang dari pembelajaran terlihat jelas sehingga memudahkan guru menentukan tujuan-tujuan jangka pendeknya. Tahap dari BDM, yakni: (1) menentukan tujuan instruksional, (2) menentukan bukti pembelajaran, serta (3) merencanakan instruksi dan pengalaman belajar dari murid.

2) Desain Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri adalah pembelajaran yang dimulai dengan sebuah pertanyaan, kasus, atau masalah. Pembelajaran inkuiri dicetuskan oleh John Dewey. Dengan menggunakan desain pembelajaran inkuiri, murid dapat distimulasi minatnya akan topik yang akan dipelajari. Selain itu, yang terutama, rasa ingin tahu (curiosity)mereka akan bertumbuh menggunakan desain ini.

Sebagai contoh, ketika akan memulai pembelajaran mengenai “Magnet,” guru dapat menyajikan sebuah demonstrasi membuat aliran listrik statis pada sebuah penggaris dengan menggosoknya pada rambut sehingga dapat menarik serpihan kertas kecil. Setelah itu, murid akan diberikan kesempatan untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang muncul dalam benak mereka setelah melihat demonstrasi tersebut.

3) Desain Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)

Pembelajaran berbasis proyek adalah desain pembelajaran yang menjadikan sebuah masalah, kasus, atau skenario sebagai pusat dan media pembelajaran. Desain pembelajaran ini juga dicetuskan oleh John Dewey. Desain ini satu rumpun dengan pembelajaran inkuiri, artinya memiliki natur yang sama, hanya terdapat perbedaan dalam penekanannya: inkuiri pada pertanyaan, sedangkan PBL pada proyek.

Dengan menggunakan desain PjBL, murid akan menumbuhkan sikap mandiri, kolaboratif, pemikiran kreatif, serta komunikasi dalam kegiatan pembelajarannya. Bagaimana tidak, mereka akan mengerjakan proyek dalam kelompok untuk mencari solusi nyata terhadap permasalahan yang terjadi. Dibutuhkan kemandirian dalam mengatur tugas-tugas belajar serta pemikiran kreatif untuk mencari solusinya.

4)    Desain Pembelajaran Gagne

Desain pembelajaran Gagnemerupakan 9 tahap pembelajaran yang dicetuskan oleh Robert Gagne sebagai salah satu desain instruksional (yang juga bisa digunakan dalam konteks ruang kelas). Manfaat dari desain pembelajaran Gagne adalah membuat pembelajaran lebih runut, sistematis, dan jelas. Misalnya, di tengah pembelajaran, guru tidak hanya memberikan materi saja, tetapi juga bimbingan belajar terhadap latihan mandiri yang sudah ditugaskan.

5)  Desain Pembelajaran Transdisiplin

Desain pembelajaran transdisiplinadalah sebuah desain pembelajaran yang menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam sebuah proyek. Itu sebabnya desain ini dapat digabungkan dengan desain PjBL.

Jika dalam pembelajaran tradisional 5 mapel akan menghasilkan 5 tugas, dalam pembelajaran transdisiplin mungkin hanya menjadi 1 tugas. Tidak ada pencetus utama dari pembelajaran transdisiplin oleh karena konsep transdisiplin sendiri merupakan konsep umum yang juga digunakan dalam bidang-bidang lain.

Manfaat dari desain pembelajaran transdisiplin adalah melatih murid melihat ilmu pengetahuan sebagai satu keutuhan, bukan hal yang terpisah-pisah. Selain itu, dengan desain ini, murid dapat berfokus pada satu penugasan saja, tidak banyak. Selanjutnya, pembelajaran transdisiplin juga memungkinkan adanya pengerjaan proyek yang kompleks sehingga hasil belajar yang bagus dapat diharapkan.

Manajemen Kelas Online

Selanjutnya, guru juga mungkin bertanya, “Bagaimana manajemen kelas di pembelajaran daring?” Atau “Apakah bisa melakukan pendisiplinan kepada murid walau dalam konteks online?” Tentunya di dalam pembelajaran daring, diperlukan proses manajemen kelas yang berbeda. Berikut ini adalah lima hal yang perlu dipertimbangkan berkaitan dengan hal ini. Guru dapat mempraktikkannya di dalam situasi yang berbeda sesuai kebutuhan.

1)  Aturan dan prosedur

Aturan adalah sebuah ketentuan yang sudah disepakati oleh guru dan murid yang mana harus diikuti sepanjang pembelajaran. Di lain sisi, prosedur adalah serangkaian tahapan yang harus dilalui murid dalam melakukan suatu aktivitas. Pengabaian aturan dapat membawa murid kepada sebuah teguran atau pendisiplinan. Pembahasan lengkap mengenai ini dapat dilihat dalam buku, “Effective Classroom Management” karya Tracey Garret dari Columbia University.

Manfaat dengan dibuatnya aturan dan prosedur adalah murid dapat melihat dengan lebih jelas garis batas antara benar dan salah selama pembelajaran daring. Sebagai contoh, terkait dengan penyalaan kamera, dapat diaturkan jika murid memang tidak bisa menyalakan kamera, dapat diberikan informasi kepada guru. Selain itu, dalam hal prosedur, dapat dijelaskan kepada murid apa yang mereka harus lakukan jika berhalangan hadir dalam pertemuan kelas online.

2) Keterlibatan Siswa

Keterlibatan murid berarti mereka mengikuti proses pembelajaran dengan segala aktivitas yang sudah disediakan secara aktif. Jika murid aktif terlibat, maka kecil kemungkinan mereka akan bosan atau melakukan aktivitas lainnya saat pertemuan sinkronus.

Selain itu, saat murid terlibat, mereka juga lebih memahami materi yang disajikan ketimbang hanya diam saja atau tidak fokus mendengarkan. Bagaimana kita tahu bahwa murid benar-benar menyimak jika tidak memberikan respons? Benar, bukan?

Untuk melibatkan murid dalam pembelajaran, pastikan desain aktivitas dibuat sedemikian rupa, agar guru bisa fokus memberikan umpan balik. Misalkan, ketimbang guru yang membuat soal-soal, mintalah mereka yang membuat soalnya. Selanjutnya, cara lain yang dapat diterapkan adalah dengan mendesain aktivitas pembelajaran menarik, seperti dengan menggunakan aplikasi kelas online, serta permainan digital edukatif.

3) Jadikan Pelajaran yang Relevan bagi Siswa

Kelas online yang relevan adalah kelas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari murid dan juga menyentuh aspek-aspek yang mungkin mereka sukai. Dengan membuat pembelajaran menjadi relevan bagi murid, besar kemungkinan mereka lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari sehingga akan memudahkan guru juga untuk melibatkan mereka dalam setiap aktivitas.

Untuk menjadikan kelas online relevan, dapat dilakukan dengan cara mendesain soal atau aktivitas berdasarkan konteks kehidupan sehari-hari. Misalkan, terlepas dari hanya menggunakan rumus pada saat mempelajari bangun ruang, penting juga untuk menaruhnya dalam konteks soal cerita yang mungkin bisa saja berhubungan dengan kehidupan sehari-hari murid.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membahas isu-isu yang sedang tren sekarang ini. Misalnya, alih-alih hanya membahas tentang persen, murid di jenjang SMA dapat dijelaskan mengenai mata uang kripto maupun NFT serta persentase potensi keuntungan dan kerugiannya. Tentu hal-hal ini akan relevan dengan murid yang sosial medianya sudah ramai dengan pembahasan akan dua hal ini.

4) Melibatkan Aktivitas Fisik

Melibatkan aktivitas fisik berarti kelas online tidak hanya mengharuskan murid duduk diam mendengarkan, tetapi juga aktif bergerak. Dengan mendesain aktivitas yang melibatkan pergerakan dari murid, maka mereka pun akan lebih semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu, ini juga akan meningkatkan fokus murid saat berada di kelas online.

Aktivitas fisik tidak hanya dapat digunakan dalam pelajaran PJOK, tetapi juga di pelajaran-pelajaran lain, tentunya dengan beberapa penyesuaian. Misalkan, murid dapat mencari di YouTube video tentang pemanasan sebelum memulai pembelajaran. Ini memang tidak berhubungan langsung dengan materi yang akan dipelajari, tetapi setidaknya semangat dan fokus mereka mulai terbangun sejak awal kelas online dimulai.

Contoh lain, guru juga dapat menggunakan metode scavenger hunt dalam pelajaran. Metode ini mengharuskan murid untuk mencari benda-benda tertentu di rumah mereka sesuai dengan instruksi yang diberikan guru. Misalnya, dalam pembelajaran topik warna di kelas kecil, guru dapat meminta murid mencari benda-benda tertentu dengan urutan warna yang berbeda-beda.

5) Menggunakan Kata-Kata Ajaib

“Magic words” atau kata-kata ajaib dalam Bahasa Indonesia adalah kata-kata positif yang dapat memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan murid. Kata-kata ajaib biasanya adalah tiga kata ini: (1) terima kasih, (2) maaf atau mohon maaf, serta (3) tolong atau minta tolong. Dengan mengatakan hal ini secara konsisten di konteks yang tepat (tidak dibuat-buat), murid akan dapat meneladaninya serta merasa dihargai sebagai seorang individu.

Dalam kelas online, ini sangat mudah untuk dilakukan. Misalnya, saat meminta murid untuk mengaktifkan kamera, alih-alih langsung menginstruksikannya, guru dapat terlebih dahulu menyampaikan kata “tolong” sebelum kalimat “aktifkan kameranya.”

Selanjutnya, contoh lain adalah saat murid mengumpulkan tugas secara online, guru dapat mengucapkan “terima kasih” karena sudah mengumpulkan tugasnya, walau jika hal itu tidak dilakukan secara tepat waktu. Mengapa? Karena kita tidak pernah tahu perjuangan murid saat menyelesaikan tugas tersebut dalam konteks kelas online seperti saat ini.

Aktivitas Kelas Online

kelas online

Lebih lanjut, guru juga mungkin akan menanyakan, “aktivitas seperti apa saja yang harus dibawakan dalam kelas online?” Atau “aktivitas seperti apa yang akan membuat kelas online menjadi lebih menarik?”

Oleh karena itu, ketiga hal ini dapat membantu Anda untuk mendesain aktivitas kelas online yang menarik, dan dapat meningkatkan fokus murid. Adapun ketiga hal ini berdasarkan pertimbangan dari sisi kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

Tentunya ini semua disesuaikan dengan platform yang digunakan. Untuk kelas online gratis, biasanya aktivitas ini dilakukan menggunakan aplikasi terpisah. Sedangkan, di kelas online berbayar, ada fitur-fitur terintegrasi untuk melakukan aktivitas-aktivitas ini.

1)  Aktivitas interpersonal

Aktivitas interpersonal adalah suatu aktivitas yang mengharuskan murid berkolaborasi dengan murid lainnya. Melalui aktivitas interpersonal, murid akan diasah kemampuannya dalam hal berkomunikasi, bekerja sama, serta memahami orang lain. Kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain adalah salah satu hal yang dibutuhkan seseorang di masa depan.

Dalam penerapannya, di kelas online guru dapat mendesain aktivitas diskusi kelompok. Biasanya fitur ini disebut dengan “breakout rooms” dimana setiap murid akan dibagi ke dalam ruang-ruang online khusus berisikan sejumlah murid. Contoh lainnya, guru juga dapat menugaskan penugasan tertentu menjadi tugas kelompok, alih-alih hanya tugas individu.

2)  Aktivitas musical

Aktivitas musical adalah suatu aktivitas yang melibatkan murid dalam hal mendengarkan atau mengeluarkan suara atau nyanyian. Manfaat dari aktivitas musical adalah murid bisa lebih mengingat dan memahami materi yang dipelajari jika input yang mereka terima juga dalam bentuk suara, tidak hanya teks atau gambar.

Sebagai contoh, saat meminta murid membaca sebuah teks, guru bisa mengajak murid di kelas untuk membaca sebuah teks dengan bantuan teknologi konversi teks ke suara. Ini akan menolong murid membaca sambil mendengarkan teks bacaannya. Jika dalam pelajaran English, hal ini juga akan menolong murid dalam mendengar pengucapan kata-kata tertentu dengan benar.

Contoh lainnya, di kelas online, kita bisa memutarkan sebuah lagu terlebih dahulu sebelum benar-benar memulai pembelajaran. Lagu ini bisa lagu yang berkaitan dengan pembelajaran, tema kontekstual yang sedang terjadi, misalkan, perayaan kemerdekaan atau hari perayaan agama. Sangat menarik, bukan?

3) Aktivitas intrapersonal

Selanjutnya, aktivitas kelas online yang dapat dicoba adalah aktivitas intrapersonal, yaitu aktivitas yang melibatkan murid dalam sebuah refleksi pribadi. Dengan melakukan jenis aktivitas ini, murid akan lebih memahami dirinya sendiri. Selain itu, aktivitas intrapersonal juga memungkinkan adanya proses metakognisi dalam pembelajaran, yaitu memikirkan apa yang dipikirkan. Ini adalah tingkat lebih lanjut dari berpikir.

Dalam kelas online, ini dapat dilakukan dengan cara meminta murid untuk memberikan tanggapan mengenai apa yang mereka pikirkan. “Mengapa kamu berpikir demikian? Apa yang menjadi landasanmu?” Ini adalah contoh-contoh pertanyaan agar murid bisa memberikan tanggapan mereka.

Selain itu, murid juga bisa diminta mengenai apa yang telah terjadi sepanjang proses pembelajaran. Mereka diajak memikirkan apakah mereka sudah mengikuti kelas online dengan maksimal atau belum. Jika sudah ataupun belum, mereka juga diajak memikirkan apa yang menjadi alasan terjadinya demikian.

Lingkungan belajar

Selanjutnya, guru juga perlu mempertimbangkan aspek lingkungan belajar saat menghadirkan pembelajaran melalui kelas online. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Seperti apa lingkungan belajar yang harus dimiliki murid saat mengikuti pembelajaran daring” atau “Lingkungan belajar seperti apa yang bisa mendukung murid lebih efektif dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh” bisa menjadi hal yang ditanyakan oleh guru.

1)  Lingkungan Belajar Fisik

Lingkungan belajar fisik adalah lingkungan belajar tempat dimana murid mengikuti kelas online yang sebagian besar adalah di rumah masing-masing. Ada beberapa hal yang dapat disesuaikan agar lingkungan belajar murid di rumah bisa mendukung murid dalam belajar dengan lebih maksimal. Jika hal ini tidak dilakukan, distraksi akan menjadi lawan murid selama berada di rumah. Benar, bukan?

Sebagai contoh, kita dapat meminta murid untuk menyediakan sebuah tempat yang kondusif untuk dapat mengikuti pertemuan dalam kelas online. Tempat kondusif di sini berarti rapi. Jika murid memiliki meja khusus untuk belajar, meja tersebut dapat dirapikan agar meja tidak sempit dan barang-barang diatasnya tidak mengganggu fokus belajar.

Contoh lain, murid juga dapat memilih sebuah tempat belajar yang tenang jika memungkinkan. Tenang di sini berarti tidak ribut, misal jauh dari suara TV, radio, atau mungkin pertemuan online lainnya yang dilakukan oleh adik atau kakak dari murid tersebut. Selain itu, tidak juga berada di jangkauan orang lain untuk ‘mengganggu’ murid saat belajar, seperti diajak berbicara oleh adik atau kakak.

2)  Lingkungan Belajar Digital

Selain itu, lingkungan belajar digital juga perlu diaturkan oleh murid selama mengikuti pertemuan dalam kelas online. Lingkungan belajar digital adalah hal-hal yang berkaitan dengan perangkat-perangkat yang digunakan oleh murid, seperti laptop, HP tablet, atau komputer. Dengan mengaturnya sedemikian rupa, murid akan dapat mengikuti kelas online dengan lebih efektif dan efisien.

Sebagai contoh, guru dapat meminta murid untuk terlebih dahulu menyiapkan daya perangkat mereka sebelum mengikuti kelas online. Ini artinya, tidak akan ada alasan ingin mengisi daya baterai saat pertemuan daring. Selain itu, murid juga diperingatkan untuk tidak membuka media sosial atau YouTube selama pertemuan masih berlangsung.

3) Manajemen waktu

Selain lingkungan belajar digital, guru juga dapat melatih murid mengenai manajemen waktu. Manajemen waktu adalah pengaturan waktu dalam jangka pendek maupun panjang untuk tujuan alokasi kegiatan dalam waktu dekat maupun panjang, seperti mingguan, bulanan bahkan tahunan. Dengan melakukan manajemen waktu, murid dapat dilatih untuk menggunakan waktu dengan lebih bijak, yakni dengan efisien dan efektif.

Sebagai contoh, di dalam kelas online, guru bisa memberikan penugasan yang dapat dikerjakan oleh murid secara mandiri (asinkronus). Jika ini adalah tugas kecil, tentu dengan memberikan waktu 10-15 menit sudah cukup. Tapi, jika ini tugas yang besar, tentu butuh berjam-jam bahkan berhari-hari untuk menyelesaikannya (misalnya pada penugasan sumatif). Oleh karena itu, guru dapat melatih murid bagaimana mengatur waktu untuk dapat ‘mencicil’ pekerjaan tersebut.

4) Manajemen tugas

Selanjutnya, setelah bisa manajemen waktu, pentingnya juga bagi murid untuk mempelajari keterampilan manajemen tugas. Secara sederhana, manajemen tugas adalah mengatur tugas-tugas sesuai dengan skala prioritas dan tahapan yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Dengan melakukan manajemen tugas, murid dapat berlatih untuk memikirkan langkah demi langkah untuk menyelesaikan tugas yang besar.

Dalam praktiknya, misalnya murid diberikan penugasan untuk membuat video presentasi dalam waktu 2 minggu. Alokasinya adalah dengan membagi lini masa mingguan dan harian. Selanjutnya, menentukan tahapan penyelesaiannya, misal sebagai berikut: (1) membuat pertanyaan bahasan, (2) mencari sumber eksternal, (3) kompilasi bahan, (4) pembuatan PPT, (5) desain PPT, serta (6) cek kualitas. Setidaknya ada 6 tahap yang harus dilalui untuk membuat sebuah presentasi yang komprehensif.

Tips Memilih Aplikasi Belajar untuk Kelas Online

Selain itu, dalam mengajari di konteks online, guru mungkin bertanya, “Jenis aplikasi apa yang saya butuhkan?” atau “Apakah aplikasi ini cocok untuk mengajarkan topik ini?” Ini diakibatkan karena banyaknya pilihan aplikasi yang bisa diakses sekarang ini. Terlebih lagi, aspek biaya juga perlu dipertimbangkan, sebab ada aplikasi kelas online gratis, ada juga premium atau berbayar.

Untuk menjawabnya, kita bisa mengategorikan sebuah aplikasi setidaknya dalam 4 kategori berikut ini.

1)  Keperluan Inkuiri

Pertama, ada aplikasi untuk keperluan inkuiri. Aplikasi inkuiri adalah aplikasi yang digunakan untuk mengakomodir kebutuhan murid untuk berpikir dan mencari tahu tentang topik yang akan dipelajari. Dengan bantuan aplikasi inkuiri, murid akan dibangun rasa ingin tahu (curiosity) dan minat (interest) mereka sehingga lebih mudah untuk mengikuti pembelajaran online.

Aplikasi inkuiri dapat berupa wadah untuk menulis pertanyaan. Jika dibayangkan, melalui aplikasi ini murid bisa menuliskan teks secara langsung; guru dan murid lain juga bisa melihat dan membacanya. Selain itu, aplikasi inkuiri juga dapat berupa aplikasi untuk menjawab pertanyaan diskusi. Guru dapat menggunakan pertanyaan diskusi ini untuk mengetahui pengetahuan sebelumnya (prior knowledge) dari murid terkait dengan materi yang akan diajar.

2)  Keperluan Komunikasi

Kedua, aplikasi untuk keperluan komunikasi. Seperti namanya, aplikasi komunikasi adalah aplikasi yang digunakan untuk keperluan komunikasi, baik dari guru maupun murid. Dengan adanya aplikasi komunikasi, hubungan yang terjalin antara guru dan murid akan terpelihara dengan baik.

Dalam konteks online, aplikasi komunikasi bisa terintegrasi dengan LMS maupun berdiri sendiri (terpisah). Sebagai contoh, jika melakukan pembelajaran sinkronus, aplikasi komunikasi biasanya hadir dalam bentuk fitur chat kolom komentar. Contoh lain, dalam pembelajaran asinkronus, dapat digunakan untuk memberikan pengumuman atau menanyakan perkembangan murid; dari sisi murid, dapat digunakan untuk bertanya kepada guru.

3) Keperluan Konstruksi

Aplikasi konstruksi adalah aplikasi yang digunakan untuk membangun dan menguji pemahaman terkait pelajaran yang sudah didapatkan murid. Aplikasi konstruksi membantu kelas online berlangsung dengan praktis; artinya tidak hanya sekadar penyampaian materi, tetapi juga penggunaan pengetahuan dan keterampilan.

Dalam pembelajaran daring, aplikasi konstruksi dapat digunakan untuk melaksanakan latihan atau asesmen formatif. Serangkaian soal dapat guru buat dan masukkan ke dalam aplikasi konstruksi untuk kemudian diberikan kepada murid. Melalui aplikasi ini, murid dapat mengerjakan soal-soal tersebut secara daring, dan ada sebagian aplikasi yang langsung memberikan hasilnya secara langsung kepada guru. Sangat menarik, bukan?

4)  Keperluan Kreasi

Selanjutnya, aplikasi kreasi. Aplikasi kreasi adalah aplikasi untuk keperluan pembuatan produk, baik itu teks, gambar, audio, maupun video. Dengan adanya aplikasi ini, murid dapat menghasilkan produk digital selama mengikuti kelas online. Selain itu, aplikasi ini juga dapat menstimulasi keterampilan berpikir tingkat tinggi, menurut Taksonomi Bloom C6, yakni kreasi.

Dalam praktiknya, aplikasi kreasi sering digunakan dalam asesmen sumatif, khususnya dalam desain pembelajaran berbasis proyek. Misalnya, dalam penugasan membuat kampanye online, guru dapat memberikan penugasan bagi murid untuk membuat video kampanye dengan disertai dengan poster digital yang menarik. Baik dalam pembuatan video maupun poster, kedua hal ini sama-sama membutuhkan aplikasi kreasi dalam pelaksanaannya.

Menyusun Asesmen Kelas Online

Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan yang juga sering diajukan guru, “Apakah asesmen kelas online dan kelas offline itu sama?” “Apa perbedaan kelas online/offline?” Pertanyaan-pertanyaan ini adalah seputar tentang asesmen atau penugasan dalam kelas online. Oleh karena itu, 6 hal berikut ini bisa guru terapkan dalam pembelajaran daring terkait dengan asesmen atau penugasan.

1)  Kompetensi Inti

Dalam kurikulum 2013, kompetensi inti bagian 3 dan 4 adalah kompetensi dalam hal kognitif dan psikomotor. Ini adalah pemetaan pengetahuan dan keterampilan yang akan dikuasai murid setelah selesai mempelajari topik tertentu. Dengan adanya kompetensi inti, guru dapat mendesain penugasan dan perencanaan instruksi pembelajaran yang fokus untuk mencapai kompetensi inti tersebut. Kompetensi inti dapat dilihat dari dokumen yang diberikan oleh pemerintah.

2)  Asesmen Formatif

Asesmen formatif adalah penugasan yang diberikan sebelum penugasan akhir (sumatif). Ada dua cara dalam memandang asesmen formatif. Pandangan pertama, formatif sebagai draf dari sumatif. Misalnya, dalam pembuatan teks pidato 3 paragraf, formatifnya dapat berupa penyelesaian paragraf 1. Kedua, formatif sebagai cerminan dari sumatif. Sebagai contoh, dalam pelajaran Matematika, tipe-tipe soal sumatif, adalah yang pernah dilakukan pada saat formatif.

3)  Asesmen Sumatif

Asesmen sumatif adalah penugasan akhir dari bab atau unit pembelajaran. Ini adalah puncak dari proses latihan, dan asesmen formatif yang sudah dilakukan. Asesmen sumatif dapat dilihat sebagai bukti pembelajaran dari setiap murid. Ini sebabnya nilai yang diberikan kepada murid di rapor seringkali didasarkan pada nilai yang ia peroleh saat sumatif. Dengan adanya asesmen sumatif, murid dapat ditantang untuk mempraktikkan dan menguji apa yang sudah dipelajari.

4) Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom adalah tingkatan berpikir yang dicetuskan oleh Benjamin Bloom. Dalam Taksonomi Bloom, tingkatan berpikir terjadi dalam 6 tahap, yakni mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Tujuan dari penggunaan Taksonomi Bloom dalam desain asesmen kelas online adalah agar setiap penugasan disesuaikan dengan kemampuan murid sesuai dengan usia mereka, dan dilakukan dengan sistematis.

Sebagai contoh, dalam mengerjakan latihan soal Matematika, ini termasuk dalam tingkat berpikir mengaplikasikan. Sebelum dapat melakukannya dengan baik, murid perlu terlebih dahulu mengingat dan memahami semua aturan, prinsip, dan rumus yang diperlukan untuk menyelesaikan latihan soal tersebut.

Membangun Motivasi Murid di Kelas Online

aplikasi kelas online

Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang mungkin juga ditanyakan guru dalam konteks kelas online sekarang adalah, “Bagaimana memotivasi murid untuk mengikuti pembelajaran daring” atau “Apa yang bisa membuat murid lebih semangat dalam pembelajaran online?” Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, guru perlu memahami mengenai teori motivasi. Berikut ini adalah 3 teori umum tentang motivasi yang biasa digunakan dalam konteks pendidikan.

1)  Teori Hierarki Maslow

Teori hierarki dari Maslow merupakan teori yang populer dari semuanya. Secara sederhana, teori hirarki dari Maslow mengatakan bahwa untuk menumbuhkan motivasi dari diri murid, kebutuhan dasar murid harus dipenuhi terlebih dahulu. Dengan demikian, mereka tidak perlu khawatir atau memikirkan mengenai kebutuhan mereka, tapi bisa fokus untuk belajar, mengembangkan diri, atau aktualisasi diri dalam istilah yang digunakan oleh Maslow.

Urutan kebutuhan yang diutarakan oleh Maslow terdiri dari 5 tingkatan, dari yang paling dasar hingga kompleks, yakni: (1) fisiologis, (2) rasa aman, (3) kasih sayang, (4) penghargaan, serta (5) aktualisasi diri.

Ini berarti, jika murid tidak merasa terpenuhi kebutuhan fisiologisnya, seperti sandang, pangan, serta papan, akan sulit bagi mereka termotivasi dalam belajar. Oleh karena itu, secara praktis, guru dapat mengingatkan murid untuk terlebih dahulu sarapan sebelum mengikuti kelas online.

2)  Teori Flow Mihaly

Teori selanjutnya adakah “flow” dari Mihaly. Teori “flow” menyatakan bahwa tingkat kesusahan dan tingkat keterampilan harus saling berpadanan agar dapat memunculkan pembelajaran yang optimal. Dalam kelas online, ini berarti tingkat kesusahan aktivitas, soal, maupun penugasan harus dapat disesuaikan dengan kompetensi dan keterampilan murid. Dengan demikian, murid dapat lebih termotivasi dalam pembelajaran oleh karena tingkatan yang sudah sesuai tersebut.

Dalam praktik di kelas online, guru dapat (1) menyiapkan aktivitas dengan tingkat kesusahan yang beragam. Demikian halnya dengan soal-soal. Tingkat kesusahan yang beragam ini, misalnya, bisa ke dalam 3 kategori umum, yakni mudah, sedang, dan susah. Selain itu, guru juga dapat (2) membuat aktivitas dengan tingkat kesusahan medium agar dapat dibawakan menggunakan aplikasi pembelajaran; menantang bagi yang masih kesulitan, dan menarik untuk yang sudah memiliki keterampilan yang cukup tinggi.

3)  Teori McClelland

Selanjutnya, teori motivasi atau kebutuhan dari McClelland. Dalam teori ini, dinyatakan bahwa terdapat 3 hal yang merupakan kebutuhan murid untuk dapat termotivasi dalam belajar, yakni kebutuhan untuk mencapai sesuatu, berelasi, dan mengontrol orang lain.

Dalam konteks kelas online, guru dapat mendesain pembelajaran yang menantang, misalnya membuat rangkaian listrik, dan membuat magnet. Selain itu, dapat juga dalam penugasan untuk kerja kelompok agar murid dapat saling bekerja sama dan berelasi satu sama lain. Selanjutnya, dalam setiap kelompok, guru juga dapat menugaskan setiap orang dengan tanggung jawab yang berbeda-beda, misal pembuat catatan, penyampai hasil diskusi, atau pengatur waktu.

Manfaat Aplikasi Kelas Online untuk Guru dan Siswa

Setelah itu, guru juga mungkin bertanya, “Aplikasi pembelajaran apa yang bisa mengakomodir banyak kebutuhan saya?” atau “Aplikasi pembelajaran apa yang memiliki fitur-fitur menarik untuk dapat menyelenggarakan kelas online?” Guru dan murid bisa menggunakan aplikasi Teachmint untuk mengakomodir kebutuhan kelas online. Terhitung hingga 1 Maret 2022, aplikasi Teachmint sudah membantu lebih dari 124 ribu guru di seluruh Indonesia.

Teachmint merupakan aplikasi kelas online gratis untuk fitur-fitur standar yang pastinya sangat baik untuk pembelajaran daring. Jika membutuhkan fitur tambahan, bisa meningkatkan ke akses berbayar. Lantas apa saja manfaat dan fitur menarik yang dapat dirasakan oleh guru dan murid lewat aplikasi Teachmint?

1)   Fitur-fitur

Dikutip dari deskripsi aplikasi di Google Play, berikut adalah fitur-fitur dari Teachmint:

●    Mengelola semua kelas Anda dan seluruh institut

●    Menyiapkan kuis & tes otomatis

●    Melaksanakan dan merekam kelas live

●    Menjawab keraguan siswa secara real-time

●    Membagikan rekaman kuliah, bahan studi, dan catatan

●    Membagikan pekerjaan rumah kepada siswa Anda

●    Menyiapkan tes & kuis instan menggunakan 1 juta+ soal dari Teachmint

●     Mengirim pengingat, tugas, dan tes MCQ

●    Pengajaran efektif dengan berbagi layar & papan tulis

●    Mengobrol dengan siswa

●    Kehadiran otomatis, dan lain-lain

Sangat lengkap, bukan? Ini adalah aplikasi all-in-one yang dapat digunakan guru untuk mengadakan kelas online, baik itu kelas online gratis maupun berbayar, selama masa pembelajaran jarak jauh ini.

2)  Manfaat

Selanjutnya, beberapa manfaat dari Teachmint yang dikutip dari deskripsi produk di Google Play:

●    Sederhana – Teachmint sangat mudah dipersiapkan. Guru dapat menciptakan ruang kelas hanya dalam 2 menit & mulai menggunakan fitur-fitur seperti penyiapan tes, berbagai pekerjaan rumah, tugas, bahan studi, manajemen biaya, dll. tanpa repot.

●    Aman – Teachmint 100% aman dan terlindungi. Tidak seperti banyak aplikasi lain yang menyoroti kehidupan penggunanya, kami tidak menggunakan data Anda atau data siswa untuk periklanan jenis apa pun.

●    Hemat Waktu - Teachmint membantu Anda mengelola biaya pendidikan, melaksanakan kelas dan tes live, mengirim pengingat, serta mencatat kehadiran secara otomatis.

●    Meningkatkan pengaturan – Siswa dapat melihat semua tugas di halaman tugas dan semua bahan studi (mis. catatan, dokumen, foto, dan video) secara otomatis disimpan di aplikasi.

●    Bank Soal – Guru dapat menggunakan bank soal Teachmint dengan lebih dari 1 juta soal untuk menyiapkan kuis & tes secara otomatis.

●    Komunikasi mudah – Aplikasi ini menyediakan alat video dua arah sederhana untuk guru melakukan sesi tanya jawab dengan siswa. Anda juga dapat melakukan obrolan live dengan siswa saat mengajar dan menghilangkan keraguan siswa.

Kamu dapat mengakses aplikasi Teachmint langsung dari Google Play dengan klik link berikut.

Nah, bagaimana? Semoga panduan lengkap ini dapat membantu kamu untuk melaksanakan kelas online dengan lebih baik lagi ya, entah itu kelas online gratis atau premium. Silahkan berikan pertanyaan di komentar jika ada, dan bagikan hal menarik dan bermanfaat yang kamu temukan juga ya. Selamat mengelola kelas online!